Dari Iron Maiden ke Bobby Caldwell: Catatan Evolusi Jempol Seorang Pemain Bass (ala-ala) dan Penyiar Radio (amatir)

Banyak orang mengira selera musik itu statis, jika Anda menyukai musik keras di masa remaja, Anda akan terus berada di sana hingga tua. Namun bagi saya, musik adalah sebuah perjalanan spiritual. Jika saya menengok ke belakang, linimasa hidup saya terpeta dengan sangat jelas melalui instrumen yang paling saya cintai: Bass.

Ini adalah cerita tentang bagaimana telinga saya berevolusi dari derap cepat heavy metal, ledakan funk rock, hingga akhirnya mendarat di kehangatan pop-jazz yang melow. Sebuah perjalanan yang juga mempertemukan saya dengan dunia siaran radio.

Dari Iron Maiden ke Bobby Caldwell: Catatan Evolusi Jempol Seorang Pemain Bass dan Penyiar Radio
gbr dibuat dengan AI

Masa SMP: Sekolah Stamina Bersama Para "Monster Bass"


Perkenalan pertama saya dengan musik diawali oleh ekosistem yang keras. Kamar saya dulu dipenuhi oleh tumpukan kaset pita dari band-band raksasa seperti Iron Maiden, dan Europe. Sebagai anak SMP yang baru memegang bass, guru pertama saya adalah Steve Harris (Iron Maiden). Melalui dia, saya belajar teknik Gallop (derap kuda) yang legendaris, melatih stamina tangan kanan agar bisa bergerak rapat dan konstan.

Namun, pahlawan terbesar saya di era kaset pita ini adalah Billy Sheehan dari Mr. Big. Bagi saya, Mr. Big adalah definisi hard rock yang manis. Musik mereka kencang, pamer teknik tingkat tinggi (siapa yang bisa melupakan solo bor listrik di lagu "Daddy, Brother, Lover, Little Boy"?), namun melodi lagu mereka sangat indah. Ditambah lagi, suara Eric Martin terlalu merdu dan soulful untuk ukuran vokalis rock. Di kamar, saya menghabiskan waktu berjam-jam mengulik lagu seperti "Jane Doe", sebuah hidden gem di album Hey Man yang memperlihatkan sisi bermain bass yang flowing dan seksi.


Selain Billy Sheehan, kaset Level 42 dengan permainan machine-gun slap dari Mark King juga menjadi alasan mengapa jempol saya mulai "gatal" untuk belajar teknik slapping.


Masa Remaja dan Kuliah: Ledakan Funk dan Doktrin Jazz Fusion

Memasuki usia remaja, selera saya bergeser ke arah yang lebih ritmis saat mengenal Flea dan Red Hot Chili Peppers (RHCP). Energi metal saya dilebur menjadi ketukan Slap & Pop yang agresif namun penuh sinkopasi.


Menariknya, masa peralihan saya menyukai funk ini bertepatan dengan lahirnya band-band berpaham acid jazz dan jazzy tipis-tipis di Indonesia akhir 90-an. Saya mulai rajin mengulik lagu "Dahulu" dari The Groove (permainan ghost notes Yuke Sampurna yang sangat sibuk namun santai) hingga lagu "Denganmu" dari Bunglon feat. Neri Per Caso yang menuntut saya bermain lebih laid-back dan menahan gema nada.


Saat kuliah, saya sempat "diteror" oleh doktrin wajib anak band kampus: Casiopea. Meskipun awalnya terasa asing karena aransemen jazz fusion instrumentalnya yang sangat teknis dan rumit, telinga bass saya tidak bisa berbohong untuk mengagumi kebersihan teknik slap Tetsuo Sakurai.

Dari sana, saya juga mendarat di hadapan Toto. Band ini menjadi kitab suci saya tentang bagaimana bermain demi keindahan lagu (playing for the song). Saya berhasil memainkan "Africa" yang megah, meskipun harus menyerah pada "Rosanna", sebuah lagu "monster" yang susahnya minta ampun karena ketukan half-time shuffle-nya menuntut presisi tingkat dewa.

Usia 22 Tahun: Menjadi Penyiar Radio dan Menemukan "Jiwa Melow"

Titik balik terbesar dalam kedewasaan bermusik saya terjadi saat saya lulus kuliah dan diterima menjadi penyiar radio di usia 22 tahun. Sebagai penyiar termuda di antara para senior, saya memegang segmen Adult Contemporary yang memutar lagu-lagu pop barat era 60-an hingga 90-an.

Di ruang siaran yang penuh kaset dan CD itu, saya "dipaksa" mendengarkan Tom Jones, Engelbert Humperdinck, Paul Anka, hingga Incognito (raksasa acid jazz dunia dengan lagu hits mereka "Still a Friend of Mine"). Di sinilah insting musikalitas saya matang. Saya mulai menyadari bahwa saya adalah tipe basis yang flowing, saya pantang membiarkan suara bass berhenti gemanya. Saya menyukai aliran nada yang panjang, hangat, dan mengikat lagu.

Kombinasi sebagai mantan pemain bass dan penyiar radio akhirnya melahirkan sisi melow yang elegan dalam diri saya. Saya jatuh cinta pada lagu-lagu dengan atmosfer dalam dan harmoni yang kuat. Lagu-lagu seperti "If" dari Bread, "I Need to Be in Love" dari The Carpenters, "By Your Side" dari Sade, hingga lagu instrumental neoklasikal "Nocturne" milik Secret Garden menjadi teman setia saya.


Dan tentu saja, ada Bobby Caldwell dengan "Heart of Mine". Lagu pop-jazz yang luar biasa hangat ini sempat membuat saya mengira Bobby adalah musisi kulit hitam karena suaranya yang begitu soulful (sebelum akhirnya tahu sejarah Blue-Eyed Soul dan siluet misterius di sampul albumnya).

Sebuah "Cerita yang Tidak Terlihat"

Teman-teman seangkatan saya dulu sering menganggap selera musik saya aneh karena kontras yang terlalu jauh antara anak metal dan pencinta lagu melow. Namun bagi saya, semuanya terhubung oleh satu benang merah: keindahan struktur dan jiwa di dalam musik.

Sekarang, saya sudah pensiun total. Bahkan sudah 10 tahun lebih saya tidak menyentuh instrumen musik, dan saya bahkan tidak pernah punya gitar akustik sendiri di rumah. Namun, otak dan telinga seorang basis tidak akan pernah bisa mati.

Jika suatu saat saya diberi kesempatan emas untuk kembali siaran di radio selama satu jam saja dengan kebebasan penuh, saya sudah tahu persis bagaimana cara menyusun ceritanya. Saya akan membuka siaran dengan "Jane Doe" (Mr. Big) sebagai penghormatan pada masa muda saya yang bertenaga namun melodis, dan saya akan menutup siaran dengan "Heart of Mine" (Bobby Caldwell) sebagai pelukan selamat malam yang tenang untuk pendengar. 

Because in the end, a good broadcaster doesn't just play songs, they tell an invisible story.

Mohammad Fanirifanto
Mohammad Fanirifanto Just an ordinary person. I write to share information. I hope it's helpful.

Posting Komentar untuk "Dari Iron Maiden ke Bobby Caldwell: Catatan Evolusi Jempol Seorang Pemain Bass (ala-ala) dan Penyiar Radio (amatir)"